PELAYANAN RUQYAH : Anda ingin terhindar dari gangguan Jin, Setan , Santet dan Sihir Maka Dirukyah

Jangan Berobat ke Dukun yang hanya menambah derita dunia dan akhirat.

Layanan Pengobatan Kami Sesuai Syar`i

Layanan Pengobatan kami dibantu doanya anak-anak dhuafa yang mengaji bukan dengan sesaji dan bantuan Jin.

ANDA BISA TERBANTU KAMI JUGA TERBANTU

Seluruh Infaq Anda Untuk Kegiatan Dakwah dan Kegiatan Pendidikan Diniyah.

Melayani Bimbingan Tesis 5

Buat Yang Sedang Bingung Membuat Skripsi dan Tesis Kami Juga melayani Bimbingan Dan Konsultasi.

Jumat, 01 Mei 2015

Psikologi Remaja

PSIKOLOGI REMAJA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latara belakang
Masa remaja adalah masa yang banyak mengalami perubahan untuk mempersiapkan segala tuntutan yang akan dihadapi di masa dewasa. Sejalan dengan hal itu, masa remaja merupakan masa yang paling rawan dalam pergaulan di mana emosi pada masa ini masih sangat labil. Para remaja mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku di kalangan masyarakat yang pada akhirnya akan menimbulkan permasalahan bagi mereka sendiri dan orang-orang yang berada dekat dengan lingkungan hidupnya.
Pada umumnya remaja didefinisikan sebagai masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun. Setiap tahap perkembangan manusia biasanya dibarengi dengan berbagai tuntutan psikologis yang harus dipenuhi, demikian pula pada masa remaja. Sebagian besar pakar psikologi setuju, bahwa jika berbagai tuntutan psikologis yang muncul pada tahap perkembangan manusia tidak berhasil dipenuhi, maka akan muncul dampak yang secara signifikan dapat menghambat kematangan psikologisnya di tahap-tahap yang lebih lanjut.
Di dalam berinteraksi dengan sesama remaja dapat memenuhi kebutuhannya dalam mencari pengalaman baru, kebutuhan berprestasi, kebutuhan diterima statusnya, kebutuhan harga diri, juga kebutuhan rasa aman yang tidak diperoleh di lingkungan rumahnya.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Untuk mengetahui tentang pengertian masa remaja
2.      Untuk mengetahui tentang fase remaja
3.      Untuk mengetahui ciri – ciri dari masa remaja
4.      Untuk mengetahui tentang periode masa remaja
5.      Untuk mengetahui gejala apa terjadi pada masa pubertas
6.      Untuk mengetahui mengenai aspek – aspek perkembangan pada masa remaja
7.      Untuk mengetahui tentang tugas perkembangan remaja 

1.3 Tujuan penulisan
Diharapkan kepada pembaca terutama mahasiswa kebidanan untuk mengerti dan memahami tentang psikologi remaja sehingga dapat membantu dalam memberikan konseling khususnya pada remaja.
                  

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Masa Remaja
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity ( Golinko, 1984 dalam Rice, 1990 ). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja antara lain:
·            DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
·            Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
·            Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
·            Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.

Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai . Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak.
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan . Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak. Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu:
a.       Perkembangan fisik
b.      Perkembangan kognitif
c.       Perkembangan kepribadian dan sosial.

2.2   Fase Remaja
Fase remaja merupakan perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Masa remaja ini meliputi :
a.    Masa pra-remaja 10 – 12 tahun
b.   Masa remaja awal 12 – 15 tahun
c.    Masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun
d.   Masa remaja akhir 18 – 21 tahun

Dalam budaya Amerika, periode remaja ini dipandang sebagai “Strom dan Stress”, frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun tentang cinta, dan perasaan teralineasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial budaya orang dewasa (Lustin Pikunas, 1976).

2.3   Ciri –ciri Masa Remaja
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.
1.   Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
2.   Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
3.   Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
4.   Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
5.   Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.

2.4   Periode Masa Remaja
Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu:

1.   Periode Masa Puber usia 12-18 tahun
a. Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya:
·      Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
·      Anak mulai bersikap kritis
b. Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya:
·      Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya
·      Memperhatikan penampilan
·      Sikapnya tidak menentu/plin-plan
·      Suka berkelompok dengan teman sebaya.
c.  Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Cirinya:
·      Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya
·      Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria
2.   Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun

Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
·      Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
·      Mulai menyadari akan realitas
·      Sikapnya mulai jelas tentang hidup
·      Mulai nampak bakat dan minatnya
 Dengan mengetahui berbagai tuntutan psikologis perkembangan remaja dan ciri-ciri usia remaja, diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.
2.5     Gejala yang Terjadi pada Masa Pubertas
Adapun gejala yang terjadi pada masa pubertas yang menandakan peralihan dari masa anak – anak ke masa remaja yaitu :
a.       Mimpi basah ( Day Dreaming )
Istilah mimpi basah,atau datang bulan, menandakan kematangan seorang remaja, mimpi basah merupakan pengeluaran cairan sperma yang terjadi secara alamia, sperma ini di produksi oleh testis, yang merupakn salah satu organ reproduksi laki – laki, ketika alat reproduksi ini sudah mulai matur ( matang ) maka testis akan mulai berproduksi. Mimpi basah akan terjadi pada laki-laki berusia 9-14 tahun, umumnya terjadi secara periodik berkisar sekitar 2-3 minggu sekali.
b.      Emosionalitas
Emosionalitas remaja berada diantara emosionalitas anak-anak dan orang dewasa. Masa remaja merupakan masa badai dan tekanan ( strum und drang periode ), dan juga berkembang beberapa jenis perasaan seperti : simpati, cinta, rindu, cemburu, bahagia dicinta dan mencintai
c.       Sikap tidak tenang
Suatu keadaan ketidak seimbangan emosi, dimana kebiasaan remaja ketika mengalami hal ini adalah, tidak bisa duduk atau berdiri dengan tenang dalam waktu yang lama,hal ini di sebabakan oleh tidak adanya control emosi, sehinga fisikpun merasakan agresifitas mentalnya. Manifestisinya kepada tingka laku,yaitu gelisah, banyak tingkah, mudah  berubah - ubah.
d.      Keinginan untuk bekerja
Keinginan untuk bekerja, di mana pada masa remaja sudah mulai di beri tanggung jawab untuk bekerja maka situasi seperti ini akan menjadi masalah, karena sebelumnya tidak terbiasa dengan pekerjaan serius.
e.       Keinginan untuk menyendiri
Anak pada masa perkembanganya terkadang membutuhkan space (tempat) untuk menyendiri,tidak berteman dan mengasingkan diri dari kelompoknya ketika dia bermasalah dengan dirinya sendiri atau bermasalah dengan teman sebayanya. Anak pada masa puberitas cenderung mengsingkan diri mana kala merasa ada hal yang kurang cocok dengan dirinya atau (minder).
f.       Kurang percaya diri
Perasaan menganggap terlalu rendah pada diri sendiri, ciri kurang percaya diri:
1. Selalu menyendiri dan menarik diri dari pergaulan (bersifat introfert)
2. Selalu ragu dalam bertindak
3. Tadak dapat bersaing positif, seperti persaingan kepandaian, dan kegiatan lainnya.
Secara psikologi sikap kurang percaya diri dapat disebabkan oleh Overprotected, terlalu dibiarkan, perfeksionis, sering di kritik dan di kecewakan, mencontohi lingkungannya, dan percaya dengan ketidak mampuan. Adapun beberapa craa yang dapat dilakukan untuk mengatasi kurang percaya diri yaitu :
·      Menciptakan definisi diri positif
·      Memperjuangkan keinginan yang positif
·      Mengatasi masalah secara positif
·      Memiliki model teladan yang positif
g.      Merasa bosan
Adalah perasaan jemu atau mengalami hal-hal yang sama berulang ulang. Merasa jenuh dengan rutinitas yang di jalaninya sehari-hari terus menerus dengan kegiatan yang sama di sebabkan perubahan fisik dan psikis yang semakin hari semakin berkembang sehinga perubahan fisik yang tidak seimbang mempengaruhi psikis anak tersebut.
h.      Antagonisme sosial
Biasanya terjadi pada usia remaja 14 - 15 tahun sampai 17 – 18 tahun, percepatan pertumbuhan fisik sangat menonjol dan kematangan fungsi layaknya orang dewasa akan timbul dan juga belum yakin dengan kebutuhan otonomi sehingga remaja sering di hadapkan pada situasi frustrasi
i.        Rasa malu yang berlebihan
Rasa malu berlebihan akan menghambat kehidupan social seseorang yang sekaligus bisa berdampak terhadap kemajuan dan kesuksesan dalam hidup dan kehidupan seseorang.


2.6     Aspek – aspek Perkembangan pada Masa Remaja
a.       Perkembangan fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik. Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif.
b.      Perkembangan Kognitif 
Seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal.
Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.
Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).
Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme. Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang, salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.
Personal fabel adalah "suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi (cerita) itu tidaklah benar" . Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut :
“Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri (self-destructive) oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil (karena perilaku seksual yang dilakukannya), atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya (saat mengendarai mobil), atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang (drugs) berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya”.
Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.
Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.
c.     Perkembangan kepribadian dan sosial
Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain. Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup.
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua. Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman. Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.
·      Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).
·      Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya. Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya.

2.7     Tugas perkembangan remaja 
Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :
·            Memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan.
·            Memperoleh peranan sosial.
·            Menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif.
·            Memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya.
·            Mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri.
·            Memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan.
·            Mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga.
·            Membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup
Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat.
Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.
BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 PERMASALAHAN MENGENAI SEKSUALITAS
Sampai saat ini masalah seksualitas selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Hal ini dimungkinkan karena permasalahan seksual telah menjadi suatu hal yang sangat melekat pada diri manusia. Seksualitas tidak bisa dihindari oleh makhluk hidup, karena dengan seks makhluk hidup dapat terus bertahan menjaga kelestarian keturunannya.
Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Padahal pada masa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan, agar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama sekali. Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingat remaja berada dalam potensi seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan sering tidak memiliki informasi yang cukup mengenai aktivitas seksual mereka sendiri. Tentu saja hal tersebut akan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa remaja bila ia tidak memiliki pengetahuan dan informasi yang tepat. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar remaja kita tidak mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan, seringkali remaja sangat tidak matang untuk melakukan hubungan seksual terlebih lagi jika harus menanggung resiko dari hubungan seksual tersebut.
Karena meningkatnya minat remaja pada masalah seksual dan sedang berada dalam potensi seksual yang aktif, maka remaja berusaha mencari berbagai informasi mengenai hal tersebut. Dari sumber informasi yang berhasil mereka dapatkan, pada umumnya hanya sedikit remaja yang mendapatkan seluk beluk seksual dari orang tuanya. Oleh karena itu remaja mencari atau mendapatkan dari berbagai sumber informasi yang mungkin dapat diperoleh, misalnya seperti di sekolah atau perguruan tinggi, membahas dengan teman-teman, buku-buku tentang seks, media massa atau internet.
Sementara akibat psikososial yang timbul akibat perilaku seksual antara lain adalah ketegangan mental dan kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah, misalnya pada kasus remaja yang hamil di luar nikah. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela dan menolak keadaan tersebut. Selain itu resiko yang lain adalah terganggunya kesehatan yang bersangkutan, resiko kelainan janin dan tingkat kematian bayi yang tinggi. Disamping itu tingkat putus sekolah remaja hamil juga sangat tinggi, hal ini disebabkan rasa malu remaja dan penolakan sekolah menerima kenyataan adanya murid yang hamil diluar nikah. Masalah ekonomi juga akan membuat permasalahan ini menjadi semakin rumit dan kompleks.
Bagaimana cara mengatasi permasalahan seksualitas yang terjadi ?
3.2 SOLUSI PERMASALAHAN
Adapun solusi yang dapat diberikan dalam mengatasi masalah seksual remaja yaitu dengan memberikan pendidikan mengenai seksualitas.
Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994), secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.
Pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar. Menurut Singgih, D. Gunarsa, penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak ( dalam Psikologi praktis, anak, remaja dan keluarga, 1991).
Dalam hal ini pendidikan seksual idealnya diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orangtuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan permasalahan seksual. Selain itu tingkat sosial ekonomi maupun tingkat pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. Dalam hal ini maka sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar.
Adapun tujuan dari pendidikan seksual yaitu
Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan moral. Pendidikan seksual yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak asasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.
Menurut Kartono Mohamad pendidikan seksual yang baik mempunyai tujuan membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggungjawab (dalam Diskusi Panel Islam Dan Pendidikan Seks Bagi Remaja, 1991). Beberapa ahli mengatakan pendidikan seksual yang baik harus dilengkapi dengan pendidikan etika, pendidikan tentang hubungan antar sesama manusia baik dalam hubungan keluarga maupun di dalam masyarakat. Juga dikatakan bahwa tujuan dari pendidikan seksual adalah bukan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja, tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan kesusilaan
Penjabaran tujuan pendidikan seksual dengan lebih lengkap sebagai berikut :
·         Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja.
·         Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (peran, tuntutan dan tanggung jawab)
·         Membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi.
·         Memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga.
·         Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual.
·         Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya. Untuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan.
·         Memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagai istri atau suami, orang tua, anggota masyarakat.
Jadi tujuan pendidikan seksual adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor. Tetapi lebih sebagai bawaan manusia, yang merupakan anugrah Tuhan dan berfungsi penting untuk kelanggengan kehidupan manusia, dan supaya anak-anak itu bisa belajar menghargai kemampuan seksualnya dan hanya menyalurkan dorongan tersebut untuk tujuan tertentu (yang baik) dan pada waktu yang tertentu saja.






BAB IV
PENUTUP

4.1   KESIMPULAN
Masa remaja merupakan masa yang paling rawan dalam pergaulan di mana emosi pada masa ini masih sangat labil. Para remaja mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku di kalangan masyarakat. Dalam keadaan ini kadang orang tua merasa jengkel, marah atau berputus asa, bingung dan bertanya-tanya tanpa tahu sebabnya sehingga remaja melepaskan diri dari orang tua dan mengakibatkan merenggangnya hubungan antara orang tua dengan remaja tersebut. Jika di rumah remaja itu tidak dimengerti oleh orang tuanya maka pelarian remaja dalam kehidupan sosialnya akan tertarik kepada kelompok teman sebayanya hal ini juga sejalan dengan teori-teori yang ada dalam ilmu psikologi perkembangan remaja.
Berkenaan dengan masalah itu maka tugas perkembangan sangat berperan untuk menangani masalah mereka sehingga mereka melewati masa itu dengan baik serta siap untuk menuju ke perkembangan yang berikutnya.
 Tugas-tugas perkembangan itu antara lain:
·         Bergaul dengan teman sebaya dari kedua jenis kelamin.
·         Mencapai peranan sosial di lingkungannya.
·         Mengembangkan sikap positif terhadap keluarga.
·         Menyeimbangkan pertentangan-pertentangan jiwanya.
·         Menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi.

Jadi di samping remaja tersebut melibatkan peran social dengan mengikuti organisasi, mereka juga tidak boleh mengabaikan tugas dan kewajiban terhadap orang tua mereka di rumah. Mereka harus memberikan sikap positif terhadap orang tua mereka untuk mempererat hubungan diantara keduanya serta agar para orang tua mau mengerti apa yang diinginkan anaknya yakni keinginan untuk belajar hidup mandiri.

DAFTAR PUSTAKA
Gunarsa, Singgih D. Psikolog Remaja. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2003.
Hurlock, E. B. (1973). Adolescent development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha
http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/remaja.html  di akses tanggal 16 mei 2011 jam 15.00 WIB
Monks, F.J., Knoers, A. M. P., Haditono, S. R. (1991) Psikologi perkembangan : Pengantar dalam berbagai bagiannya (cetakan ke-7). Yogya: Gajah Mada University Press.
Papalia, D E., Olds, S. W., & Feldman, Ruth D. (2001). Human development (8th ed.). Boston: McGraw-Hill
Zulkifli, Drs. Psikologi Perkembangan. Bandung, PT Remaja Rosdakarya. 2002.
sumberhttp://hamidahsity.blogspot.com/2013/05/psikologi-remaja.html

Rabu, 01 April 2015

Psikologi Perkembangan Menurut Alquran dan Hadits

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MENURUT ISLAM


 Definisi
Psikologi perkembangan menurut Islam memiliki kesamaan objek studi dengan psikologi perkembangan pada umumnya, yaitu proses pertumbuhan dan perubahan manusia. jika psikologi perkembangan membatasi penelitiannya dari konsepsi sampai kematian, maka melalui studi literatur keagamaan, dapat memperluas ruang lingkup penelitiannya pada kehidupan yang bersifat transedental, termasuk kehidupan setelah mati. Juga secara fundamental memandang manusia sesuai dengan citranya sebagai khalifah Allah di muka bumi, seperti yang diterangkan dalam Alquran dan hadist. Jadi psikologi perkembangan menurut Islam merupakan kajian atas proses pertumbuhan dan perubahan manusia yang menjadikan Alquran dan Hadist sebagai landasan berpikirnya.

 Prinsip Dasar Psikologi Perkembangan Dari Perpektif Islam Terdiri Dari
1.     Kehidupan Manusia (Pertumbuhan & Perkembangan) Merupakan Proses Yang Bertahap Dan Berangsur-Angsur
Ketika menyatakan bahwa Allah adalah Maha Pencipta, Maha Penjaga dan Maha Pemelihara segala sesuatu, Alquran juga mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia dari berbagai tahap progresif pertumbuhan dan perkembangan. Dengan kata lain, kehidupan manusia memiliki pola dalam tahapan-tahapan tertentu yang termasuk tahapan dari pembuahan sampai kematian. Tahapan yang tertjadi dalam pertumbuan dan perkembangannya bukan karena suatu kebetulan namun merupakan sesuatu yang telah dirancang, ditentukan dan ditetapkan langsung oleh Allah. Banyak ayat Alquran yanmg menyatakan hal ini. Salah satunya sebagai berikut:
... dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan segalanya dengan ukuran-ukuran dengan serapi-rapinya. (QS. Al-Furqaan 25:2)
pertumbuhan & perkembangan manusia tidak terjadi serta merta dalam satu waktu, namun melalui tahapan yang telah ditentukan ukurannya yang membuatnya berjalan dalam  proses yang berangsur-angsur atau gradual. Ayat berikut ini dengan jelas menyatakan bahwa manusia diciptakan dan ditentukan untuk berkembang dalam tahapan.
Mengapa kamu tidak percaya kepada kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. (QS. Nuh 71:13-14)
 Ibn Kastir melaporkan bahwa Abdullah Ibn Abbass dan lain-lain menrjemahkan ayat ini dalam pengertian bahwa manusia tumbuh dari satu keadaan ke keadaan lain sedemikian rupa, menjadi kana-kanak setelah bayi, menjadi tua setelah muda dan kuat.
Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa manusia tumbuh dan berkembang mengikuti tahapan tertentu. Tahapan ini secara khusus dinyatakan dalam berbagai ayat Alquran yang lain dengan cara yang lebih rinci. Selain itu Nabi Muhammad saw. Juga menyatakan tahapan ini lebih lanjut dalam beberapa hadist. Jika dianalisis, Alquran dan Hadist secara umum membagi kehidupan manusia (pertumbuhan dan perkembanagan) di dunia menjadi kategori besar, prakelahiran dan pascakelahiran. Masing-masing tahapan ini juga dap;at dibagi atas berbagai bagian lagi dengan istilah dan periode yang berbeda-beda. Banyak ayat Alquran yang secara substansi cukup rinci membahas tentang tahapan kehidupan manusia di dunia. Meski dalam beberapa ayat yang lain hanya menggambarkan tahap pertama kehidupan manusia, yaitu tahapan prakelahiran. Salah satu contohnya adalah ayat Alquran berikut ini:
...Dia menjadikanmu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempuanyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia, maka bagaimana kaamu dapat dipalingkan?       (QS Al-Zumar 39:6)
Selain itu, berbagai ayat Alquran juga menggambarkan kedua tahap (prakelahiran dan pascakelahiran) dengan cara yang sangat jelas:
Dialah yang menciptakanmu dari tanah kemudian dari tetesan (nutfah), sesudah itu dari segumpal darah (alaqah); kemudian dilahirkan-Nya kamu tumbuh kepada masa (dewasa yang penuh kekuatan); kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, diantara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu, Kami perbuat demikian supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahaminya. (QS Al-Mu’min 40:67)

Alquran juga menyatakan bahwa tahap pertama memiliki aturan dan waktu yang ditentukan untuk mencapai tugas perkembangannya. Setelah itu tahap pertama ini terputus dengan adanya kelahiran (melalui persalinan). Hal ini terlihat dalam petikan ayat berikut:
... dan Kami tetapkan dalam rahim siapa yang kami kehendaki sampai waktu yang ditentukan... (QS Al-Hajj 22:5)
Ayat tersebut dalam kutipan yang lebih lengkap terlihat membagi dua tahapan besar perkembangan manusia, ayat tersebut berbunyi:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan, maka ketahuilah sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari tanah (turab), kemudian dari tetesan (nutfah), kemudian segumpal darah (alaqah), kemudian dari struktur daging (mudgah) yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar kami jelaskan padamu, dan Kami tetapkan dalam rahim siapa yang Kami kehendaki sampai waktu yang ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian berangsur-angsur kamu menjadi dewasa, dan diantara kamu yang diwafatkan dan adapula yang diperpanjang umurnya sampai pikun, supaya tidak diketahui lagi sesuatu yang dulu diketahuinya...     (QS Al-Hajj 22:5)
Selain itu Nabi Muhammad Saw. Juga memberi hadist yang secara akurat menggambarkan tahap pertama dengan menyebutkan waktu perkembangannya, sebagaimana berikut ini:
“dari Abi Abd Rahman Abdillah Ibn Masud r.a berkata: Rasullah mengatakan kepada kami, kejadiannya sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan pada perut ibumu selama 40 hari berupa tetesan (nutfah), kemudian menjadi segumpal darah (alaqah) dalam waktu yang sama, kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) juga dalam waktu yang sama. Sesudah itu malaikat diutus untuk meniupkan ruh kepadanya dan diutus untuk melakukan pencatatan empat kalimat, yaitu mencatat rizkinya, usia, amal perbuatan, dan celaka atau bahagianya.” (HR Muslim)
Gejala, bentuik, ukuran, dan waktu dimana individu diciptakan dan dibentuk dalam rahim dapat berbeda-beda sesuai keinginan dan perintah Allah. Segalanya sesuai takdir Allah.
Dialah yang membentuk kami dalam rahim sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Imran 3:6)
Alquran menyatakan, sebagaimana petikan QS Al-Hajj 22:5 diatas, bahwa periode prakelahiran telah ditentukan (biasanya 9 bulan dalam keadaan normal seperti dinyatakan di hadist lainnya). Namun Alquran juga menyebutkan bahwa ada kasus-kasus pengecualian dimana periode pra kelahiran dihentikan, sebelum atau setelah waktu yang normal. Dalam Alquran menyatakan:
Allah mengetahui apa yang dikandung setiap perempuan, dan kandungan reahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu padaa sisi-Nya ada ukurannya. Yang mengetahui segala yang ghaib dan yang tampak; Yang Maha Besar Lagi Maha Tinggi. (QS Al-Ra’d 13:8-9)
Dengan demikian Allah menyatakan bahwa beberapa persalinan kehamilan dapat terjadi sebelum atau setelah waktu persalinan yang normal, namun keputusan penambahan atau pengurangan waktu merupakan kewenangan Allah.
Untuk pertumbuhan dan perkembangan setelah kelahiran, Alquran tidak menyatakan dengan pasti rentang kehidupan yang dapat diterapkan pada semua individu, karena hal tersebut berbeda antar individu. Sehubungan hal ini Alquran menyatakan:
... kemudian (dengan berangsur-angsur) kami sampailah kepada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan adapula diantara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun...(QS Al-Hajj 22:5)
Namun, jika periode pasca kelahiran diamati secara umum, ulama Islam membaginya atas empat tahapan besar, yang masing-masing dibagi-bagi lagi dalam tahapan yang lebih kecil.
Allah, Dialah yang menciptakan kamu  dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikanmu seseudah lemah itu menjadi kuat, kemudian menjadi lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Kuasa. (QS Al-Ruum 30:54).
2.     Pertumbuhan & Perkembangan Manusia Memiliki Pola Tertentu
Menurut Alquran pertumbuhan dab perkembangan manusia memiliki pola umum yang dapat diterapkan pada manusia, meskipun terdapat perbedaan individual. Pola yang terjadi adalah bahwa setiap individu tumbuh dari keadaan lemah menuju keadaan yang kuat dan kemudian kembali melemah. Dengan kata lain, pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan hukum alam, ada kenaikan dan penurunan.
Ketika seseorang secara berangsur-angsurmencapai puncak perkembangannya, baik fisik maupun kognitif, dia mulai menurun berangsur-angsur. Alquran menyatakan sebagai berikut:
Allah, Dialah yang menciptakan kamu  dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikanmu seseudah lemah itu menjadi kuat, kemudian menjadi lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Kuasa. (QS Al-Ruum 30:54).
Allah menciptaka kamu, kemudian mewafatkan kamu, dan diantara kamu ada yang dikembalikanpada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui segala sesuatunya yang pernah dia ketahui. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana. (QS An-Nahl 16:70)
Dengan demikian terlihat bahwa pola yang disebutkan dalam ayat ini dapat diterpkan pada semua manusia. semua manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Hal ini mengacu pada tahap pertama penciptaanmanusia di dalam rahim sampai persalinan. Manusia sangat lemah dalam tahap awal ini, baik secara fisik maupun mental. Lemahnya manusia pada awal kehidupan ini juga mencakup pada lemahnya keadaan mental seseorang sebagaimana dinyatakan berikut ini:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS Al-Nahl 16:78)
Dalam ayat-ayat lainnya dinyatakan dengan jelas pola keadaan lemah merupakan karakter pertama dari seluruh awal kehidupan manusia, dan kemudian menguatdalam perkembangan selanjutnya. Misalnya:
Kami peintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya: ibunya mengandung dengan keadaan susahpayah, dan melahirkannya dengan susaah payah juga, mengandunganya samp[ai menyapihnya adalah selama tiga puluh bulan. Sehingga apabila ia telah dewasa (usia dengan kekuatan penuh) dan umurnya saampai empat puluh tahun ia akan berdoa: “Ya Tuhaku, tunjukilah untuk mensyukuri nikmat engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku...    (QS Al-Ahqaf 46:15).
Deduksi analogik yang dapat dibuat dari ayat ini adalah masing-masing kehidupan manusia dimulai dengan keadaan lemah, berangsur-angsur mencapai puncak kekuatan dan berang-angsur pula menuju menurun, seperti yang terkandung dalam ayat sebelumnya. Penurunan merupakan dimensi kedua dari keadaan lemah yang menandai kehidupan manusia pada akhir kehidupannya. Hal ini juga dinyatakan dalam ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya. Pola ini terlihat berlaku umum pada semua manusia sehari-hari.
Prinsip ini harus dicatat, tidak menghilangkan fakta perbedaan individual. Artinya walaupun pola ini terjadi pada setiap manusia, selalu ada perbedaan antar individu dalam hal variabel dan proses perkembangan spesifik. Sebagai gambaran, dapat dilihat dua orang lkembar identik yang lahir pada saat bersamaan. Prinsip ini dapat diterapkan pada keduanya dalam pengertian mereka lahir dalam keadaan tidah berdaya, lemah, manusia yang masih kecil, dan kemudian keduanya berangsur-angsur tumbuh dan memperoleh kekuatan. Namun yang satu dapat saja memliki kulit lebih gelap dari lainnya. Atau yang satu lebih gemuk, hal ini merupakan bentuk perbedaan individual. Namun hal ini tidak dapat menghilangkan fakta bahwa adanya prinsip pola perkembangan yang bersifat umum.
3.     Perkembangan Manusia Adalah Proses Kumulatif & Simultan
Jika setiap ayat Al-quran yang membicarakan perkembangan manusia dan tahap-tahapnya dibahas secara seksama, disintesis dan dianalisis, akan terlihat bahwa Alquran menyatakan postulat bahwa perkembangan manusia secara alamiah bersifat kumulatif. Dengan kata lain, setiap perkembangan baru yang dicapai merupakan penambahan dari perkembangan sebelumnya. Dengan cara ini, perkembangan meningkatkan satu aspek dengan dasar peningkatan sebelunya sampai pencapaian tahap puncak.
Banyak ayat-ayat yang menyatakan perkembangan berkaitan pada segala aspek-aspeknya, baik secara eksplisit maupun implisit. Namun aspek fisik dan kognitif merupakan asspek yang secara eksplisit dinyatakan berhubungan  satu sama lainnya dalam berbagai ayat Alquran.
Dilihat dari Alquran yang mengacu pada pemberian kekayaan kepada anak yatim ketika mereka mencapai  “kekuatan penuh”. Makna ayat ini mencakup perkembangan fisik dan mental. Jika perkembangan fisik dinyatakan dalam ayat ini dengan kata “kekuatan” yang menunjukan bentuk dan postur tubuh, komponen mental dengan jelass dinyatakan dalam Alquran berikut:
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin: jika menurutmu mereka telah cerdas, maka serahkanlah mereka harta-hartanya; dan janganlah kamu memakan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan jangan kamu tergesa-gesa membelanjakannya sebelum mereka dewasa...(QS An-Nisa’ 4:6)
Namun Alquran juga menunjukan fakta bahwa beberapa aspek dapat berkembang lebih cepat dari lainnya, sehingga menghasilkan perbedaan intraindividual dalam perkembangan. Misalnya perkembangan fisik seseorang dapat lebih cepat dari perkembangan mentalnya atau sebaliknya. Alquran juga menunjukan faktor retardasi mental. Dalam situasi ini, individu dapat tumbuh dan berkembang secara fisik, namun pertumbuhan dan perkembangan mental tidak berjalan beriringan. Alquran menyatakannya dalam ayat tentang kontrak utang:
Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah keadaanya atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur... (QS Al-Baqarah 2:282).
Banyak ayat lain yang menyebutkan berbagai perkembangan mental yang abnormal. Bentuk lain dari perkembangan abnormal juga dinyatakan dala ayat lain yang berkaiatan dengan perkembangan bahasa yang abnormal, yang menyebabkan kesulitan berbicara. Dalam gambaran parabolik dan euphemistik dari orang-orang kafir, faktor ini dinyatakan, seperti berikut:
Dan Allah membuat pula perumpamaan: dua lelaki yang satu bisu, tidak bisa berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggunya, kemana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun, dan dia berada pula di jalan lurus? (QS An-Nahl 16:76)
Hal ini dapat diterima dalam prinsip ‘Ilmu Ushul fiqih”. Dimana mengkonfirmasikan bahwa abnormalitas mempengaruhi berbagai aspek perkembangan manusia, sebagaimana dapat mempengaruhi keseluruhan perkembangan.
4.     Pertumbuhan & Perkembangan Manusia: Melampaui Keberadaan Fenomena Dunia
Jika teori-teori dalam psikologi modern hanya mencakup kehidupan duniawi yang sementara, Alquran memproyeksikan kehidupan manusia di atas kehidupan ini. Alquran mengkaji kehidupan saat ini sebagai dasar kehidupan lain yang lebih permanen dan kekal. Manusia akan mengalami transformasi kepada kehidupan yang lain pertumbuhan dan perkembangannya bersifat transedental dan lebih tinggi. Pertumbuhan dan perkembangan ini, bagaimanapun dapat berakhir dengan kenikmatan atau penyikasaa. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa mengapa berbagai ayat Alqiran yang menyatakan tahapan perkembangan dikaitkan langsung dengan kehidupan setelah mati. Misalnya ayat berikut menyatakan tahapan duniawi perkembangan manusia diikuti oleh ayat yang menunjukan kehidupan kemudian:
Sesungguhnya Kami telah mencipatakan manusia itu dari saripati dari tanah (sulalatin min tin). Kemudian Kami jadikan saripati tanah itu menjadi suatu tetesan (nutfah) yang tersimpan di tempat yang aman dan kokoh. Kemudian tetesan itu Kami olah menjadi segumpal darah (alaqah), dan segumpal darah itu Kami olah menjadi segumpal daging (mudhgah). Lalu mudhgah itu Kami olah menjadi tulang belulang (idham). Kemudian idham itu Kami bungkus dengan daging (lahm). Kemudian Kami jadikan makhluk yang berbentuk lain dari sebelumnya. Maha Suci Allah pencipta yang paling baik. Kemudian sesudah itu kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu di hari kiamat. (QS Al-Mu’minun 23:12-16).
Dengan demikian jelaslah bahwa untuk mempelajari manusia secara komprehensif, aspek kehidupan setelah mati harus disertakan. Hal ini karena ketakutan akan kematian dan apa yang terjadi di dalamnyamerupakan bagian alamiah dari manusia dan mempengaruhi disposisi dan perkembangan manusia. Tanpa hal ini, pengetahuan kita tentang manusia akan terus tetap bersifat primitif dan parsial.
5.     Pertumbuhan & Perkembangan Manusia: Melewati Periode Kritis Dan Sensitif Tertentu
Periode dan fase formatif secara esensial sangat penting karena meletakan dasar bagi perkembangan selanjutnya yang dalam hal ini seluruh periode prakelahiran, bayi , anak-anak, dan remaja dianggap sensitif.
Sensitivitas tahap prakelahiran, misalnya dapat dilihat tradisi muslim yang membiasakan diri untuk menyuarakan doa mereka, seperti yang dicontohkan Nabi, ketika mereka selesai bersenggama. Hal ini bermakna sebagai doa kepada Allah untuk memohon perlindungan pada setan dan pemberian stimulus suara. Suara disini dapat berfungsi sebagai pelindung dari segala halangan yang dapat menyebabkan retadasi dalam pertumbuhan dan perkembangan dari segala aspek kehidupan anak.
Dengan cara yang sama, Alquran menyuruh kita untuk selalu menyuarakan doa pengampunan sebelum dan selama kehamilan. Setelah itu ketika anak baru dilahirkan, suara adzan harus dikumandangkan ke telinga anak seperti yang dicontohkan Nabi. Sebenarnya perhatian utama dari ha ini adalah suara perkembangan moral anak.
Setelah kelahiran, Nabi menyuruh kita untuk berhati-hati dalam merawat anak-anak. Periode lain yang dianggap sangat kritikal dan sensitif adalah periode remaja dimana periode transisi dari anak-anak menju kedewasaan. Masa ini rentan terhadap kegairahan, kenikmatan yang mencemaskan dan godaan.
Disamping berbagai masalah yang merupakan karakteristik remaja, alasan lain mengapa periode ini merupakan periode kritis dan sensitif dalam perkembangan individual adalah masa ini merupakan masa transisi yang menandai awal dari tanggung jawab legal (taklif).
“Diangkat pena (untuk mencatat amal) dari tiga macam orang: anak kecil hingga ia pubertas (ihtilam), orang tidur hingga terjaga, dan orang gilaa hingga ia sadar”. (HR Abu Dawud, Tirmidhi, dan Hakim).

 Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Dalam Perpektif Islam
1.     Pengaruh Hereditas
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik sebagai berikut: Ibunya (ibu Anas) Ummi Sulaym (salah satu sahabat perempuan pada zaman Nabi) bertanya tentang perempuan yang menyaksikan mimpi basah dalam tidurnya seperti laki-laki. Dia menjawab, “Jika perempuan menyaksikan itu, ia harus mandi wajib (janabah).’’ Kemudian Ummi Salmah (isteri Nabi yang hadir) bertanya malu-malu, “Apakah itu terjadi?’’ Nabi menjawab, “Tentu saja! Bagaimana ini mendatangkan keserupaan (jika tidak terjadi)? Sperma laki-laki merupakan tetesan putih yang tebal sedangkan sel telur perempuan merupakan cairan kuning yang tipis. Manapun diantara keduannya yang mengungguli yang lainnya, hasilnya akan mempengaruhi.’’ (HR. Muslim)
Muslim meriwayatkan dari Thauban, bahwa seorang Yahudi dating dan bertanya kepada Nabi berbagai pertanyaan (sebagai usaha untuk menantang kebenaran kenabiannya). Pertanyaannya adalah tentang penentuan jenis kelamin, bagaimana terjadinya? Nabi menjawab sebagai berikut:
Sperma pria alah putih dan sel telur perempuan kekuning-kuningan. Jika mereka bertemu (terjadi pembuahan) dan sperma pria mengungguli sel telur perempuan, hasilnya akan menjadi jenis kelamin laki-laki dengan seijin Allah, dan jika sel telur perempuan yang mengungguli  sel sperma pria hasilnya akan menjadi perempuan dengan seijin Allah.’’ (HR Muslim)
Setelah nabi menjawab demikian, orang Yahudi itu mengatakan, dan dia adalah benar seorang Nabi.
Ibn Al-Qayyim menjelaskan hadist ini lebih lanjut:
Pada saat konsepsi (pembuahan) dua hal terjadi. Maka ini adalah dominasi dan keunggulan. Dua hal itu dapat terjadi berurutan, dan dapat juga terjadi berbeda. Dalam hal ini, jika sperma laki-laki dominan dan mengungguli ovum perempuan, hasilnya akan menjadi laki-laki dan menyerupai ayahnya. Tapi jika sebaliknya, hasilnya akan menjadi perempuan  dan menyerupai ibunya. Namun jika yang satu dominan tetapi lainnya mengungguli, hasilnya akan menyerupai yang mendominasinya dan jenis kelaminnya akan menjadi sama dengan yang mengunggulinya, baik laki-laki maupun.’’
Walaupun demikian Ibn Al-Qayyim, memperingatkan bahwa penentuan jenis kelamin ini (dengan segala sesuatu yang terjadi dengannya) tidak dapat dipahami sebagai hal yang semata-mata ditentukan oleh alam. Karena hal tersebut merupakan urusan yang sepenuhnya tergantung pada kehendak Allah. Itu sebabnya mengapa Rasulullah mengatakan dalam hadist lain bukti bahwa malaikat meniup roh ke dalam fetus dan bertanya kepada Allah: Wahai Tuhanku! Apakah jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan?... Kemudian Allah menentukannya sesuai kehendaknya dan malaikat mencatatnya.
Bukti tekstual menghapuskan keraguan bahwa factor herediter memiliki pengaruh. Namun keputusan atas segalanya tergantung pada Allah. Dengan demikian,  herediter dapat mempengaruhi perkembangan intelektual seseorang dalam batasan tertentu.
2.     Pengaruh Lingkungan
Bukti yang terkenal berkaitan dengan hal ini adalah hadist dimana Rasulullah Saw. mengatakan bagaimana orang tua mempengaruhi agama, moral, dan psikologi umum dari sosialisasi dan perkembangan anak-anak mereka. Hadist ini merupakan bukti tekstual yang paling terkenal dari pengaruh lingkungan terhadap seseorang. Hadist ini berbunyi:
“Tiap bayi lahir dalam keadaan fitrah (suci membawa disposisi Islam Orang tuanyalah yang mermbuatnya Yahudi (jika mereka Yahudi), Nasrani (jika mereka Nasrani), atau Majusi (jika mereka Majusi). Seperti binatang yang lahir sempurna, adakah engkau melihat mereka terluka pada saat lahir?’’ (HR Bukhari)
Dalam hadist lain Rasulullah menunjukan bagaimana teman dapat mempengaruhi seluruh perilaku, karakter dan perbutan seseorang. Dengan memberi perumpamaan Rasulullah bersabda:
“Persamaan teman yang baik dan yang buruk seperti padagang minyak kesturi dan peniup api tukang besi. Si padagang minyak kesturi mungkin akan memberinya kepadamu atau engkau membeli kapadanya, atau setidaknya engkau dapat memperoleh bau yang harum darinya, tapi si peniup api tukang besi akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap dari padanya.’’ (HR Bukhari)
3.     Pengaruh Ketentuan Allah
Terdapat bukti yang substansial yang memperlihatkan bahwa herediter dan lingkungan semata-mata tidak dengan sendirinya menentukan pola perkembangan individu; ada hal yang paling utama dalam persoalan tersebut, yaitu segalanya tergantung kehendak Allah. Contoh yang paling mencolok adalah riwayat Nabi Isa as. Ibn Maryam. Allah membuatnya dapat berbicara dalam buaiannya. Sebagaimana kita ketahui, perkembangan bahasa merupakan bagian integral dari perkembangan kognitif. Dalam situasi normal, anak mulai berbicara pada usia dua tahun sepatah dua patah kata, dan sejalan dengan itu mereka mulai mengembangkan perbendaharaan bahasa.  Kenyataan bahwa Nabi Isa as. dapat berbicara pada masa buaian menunjukan kekuatan Allah. Hal ini bukan factor herediter, juga bukan produk stimulasi intelektual dari lingkungan. Hal tersebut lebih merupakan manisfestasi kebijksanaan Tuhan.alquran menceritakan kejadian ini dalam beberapa ayat. Pertama Alquran menceritakan bagaimana Maryam diberitahu bahwa anaknya kan berbicara sejak dalam buaian. Ayat ini berbunyi:
… dan dia berkata kepada manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dia adalah salah seorang diantara orang-orang yang shaleh. (QS Al-Imran 3:46)
Selain itu, untuk menceritakan kisahnya lebih lengkap Alquran menyebutkan:
Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu bukanlah sekali-kali bukanlah orang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah orang yang pezina.’’ Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: ”Bagaimana kami berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?’’ Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikanku seorang Nabi, dan Dia menjadikanku seorang yang diberkati dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) Shalat (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.’’ Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidaklah layak bagi Allah mempunyai anak. Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadaNya: “Jadilah’’, maka jadilah. (QS Maryam 19:27-35)
Dalam kajian psikologi, factor ini merupakan hal yang penting untuk diperhatikan karena banyak hal yang terjadi dalam kehidupan manusia yang tidak bias digolongkan ke dalam factor herediter dan lingkungan. Dengan demikian hal tersebut tidak dapat diterangkan dalam keranda penyelidikan material atau empiric.
Peran kehendak Allah dalam menentukan perkembangan individual seperti yang dinyatakan dalam pendekatan Islam akan membantu manusia memahami proses perkembangan yang lebih baik dari pendekatan Psikologi Barat dalam berbagai cara. Kasus kemampuan bicara Nabi Isa as. dan lain-lain dalam buaian merupakan kesaksian terhadap hal ini.

 Manusia Sebagai Khalifah Allah
Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah Allah di bumi. Manusia diciptakan pada dasarnya sebagai suci dan beriman, juga membawa citra ketuhanan di dalam dirinya yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah. Dalam Alquran penciptakan manusia dinyatakan sebagai berikut ini :
Kemudian Dia menyempurnakan tubuhnya (manusia) dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruhnya…(QS Al-Sajdah 32:9)
Said Hawwa menyatakan bahwa pada awal penciptaan, ruh tahu akan Allah dan menyatakan kesediaannya untuk mengabdi dan beribadat kepada-Nya. Namun, setelah penyatuan dengan tubuh, datang sifat keterasingan dan kebuasan, sehingga pengetahuan dan penghambaanya kepada Allah dapat lenyap.
Namun, berbeda dengan berbagai makhluk lain, sebagai khalifah Allah manusia memiliki kebebasan berkehendak dibawah penentuan Allah. Walaupun pada saat yang sama manusia memiliki kebebasan terbatas untuk memilih jalan yang hendak dilaluinya. Dalam Alquran dinyatakan:
…dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-Nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaanya. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya. (QS Al-Syams 91:7-10)


Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Menurut Alquran
Perbedaan individual merupakan kehendak Allah dan ditentukan melalui pembawaan hereditas dan lingkungan. Alquran menyatakan bahwa Allah menciptakan dan membentuk manusia dalam rahim ibunya dengan cara dan bentuk yang berbedan dan unik seperti yang diinginkanNya:
Hai manusia, apakah yang memperdaya kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (QS Al-Iifithaar 82:6-8)
Dia yang membentuk kamu dalam Rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Imran 3:6)
Lebih lanjut dan dalam pernyataan yang jelas, Alquran menyatakan manusia berbeda-beda satu sama lainnya dalam sifat, karakter, perilaku dan perbuatan:
Katakanlah! Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaanya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS Al-Israa 17:84)
Ayat ini menyatakan bahwa manusia memiliki disposisi yang unik. Keunikan yang demikian dapat termanisfestasikan dalam bentuk fisik, kognitif, emosional, moral, dan karakteristik social. Alquran dengan demikian menyatakan bahwa perbedaan antarindividual tidak hanya meliputi perkembangan kognitif, namun juga seluruh aspek perkembangan. Dengan melihat hal ini, orang akan melihat bahwa perbedaan individu merupakan hal yang sangat diperhatikan bahkan dalam berbagai perintah dan larangan Alquran untuk mentaati  Allah dan juga keringanan dalam memenuhi kewajiban terhadap-Nya. Contoh tipikal dari ayat ini adalah perintah untuk memenuhi peraturan Allah semampu mungkin, baik secara individu maupun kolektif:
Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu…(QS Al-Thaghaabun 64:16)
Makna ini juga terkandung juga dalam ayatt berikut:
Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikannya) dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…(QS Al-Baqarah 2:286)
Menurut Ibn Katsir, Allah menerangkan dalam ayat berikut bahwa Dia menciptakan keragaman pada makhluk-makhlukNya, termasuk manusia dalam hal kekayaan, intelektual,pemahaman, dan kemampuan lain yang bersifat internal dan eksternal:
…dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain… (QS Al-Zukhruf 43:32)

Simpulan
Psikologi perkembangan menurut Islam memiliki kesamaan objek studi dengan psikologi perkembangan pada umumnya, yaitu proses pertumbuhan dan perubahan manusia. jika psikologi perkembangan membatasi penelitiannya dari konsepsi sampai kematian, yang memiliki prinsip dasar yang terdiri dari kehidupan manusia merupakan proses yang gradual, memiliki pola tertentu, merupakan proses kumulatif dan silmultan, melampaui keberadaan fenomenal duniawi, dan melewati periode kritis dan sensitive tertentu.
Factor perkembangannya terdiri dari harediter, lingkungan dan yang paling penting adalah factor ketentuan Allah. Dia sendiri yang membentuk manusia dengan bentuk yang berbeda dan unik sehingga setiap manusia antar individu tersebut berbeda.



REFERENSI :

 Hasan, Purwakania, B., Aliah. Psikologi Perkembangan Islami. 2006, Jakarta :                  PT. RAJAGRAFINDO PERSADA

Minggu, 15 Maret 2015

Kerajinan Dari Barang Bekas 1

Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas


Koran bekas adalah salah satu barang bekas yang mungkin paling banyak dijumpai dimana-mana. Kemungkinan besar hampir di setiap rumah bisa kita dapati koran bekas yang menumpuk begitu saja karena tidak tahu mau diapakan.

Nah dari pada dibuang begitu saja kali ini kita akan berbagi ide bagaimana memanfaatkan barang bekas seperti koran ini untuk membuat aneka macam kerajinan tangan dari barang bekas.


Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas, Aneka Kreasi Koran Bekas


Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas, Aneka Kreasi Koran Bekas


Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas - Koran Bekas


Berikut ini ada beberapa contoh ide kerajinan tangan dari barang bekas (koran bekas) :



Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas, Aneka Kreasi Koran Bekas 1
Lukisan Koran Bekas

Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas, Aneka Kreasi Koran Bekas 2
Figura Koran Bekas

Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas, Aneka Kreasi Koran Bekas 3
Tas  Koran Bekas

Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas, Aneka Kreasi Koran Bekas 4
Bunga Koran Bekas

Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas, Aneka Kreasi Koran Bekas 5
Kupu-kupu Koran Bekas

Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas, Aneka Kreasi Koran Bekas 6
Bunga Koran Bekas

Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas, Aneka Kreasi Koran Bekas 7
Lampion Koran Bekas

Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas, Aneka Kreasi Koran Bekas 8
Sandal  Koran Bekas

Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas, Aneka Kreasi Koran Bekas 9
Bunga Koran Bekas

Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas, Aneka Kreasi Koran Bekas 10
Keranjang Anyaman Koran Bekas
Sumberhttp://kerajinantangann.blogspot.com/2013/12/kerajinan-tangan-dari-barang-bekas-koran.html

Minggu, 01 Maret 2015

Kurikulum Pelatihan PMR

ada materi Prolog Kepalangmerahan, yang meliputi:

Sejarah Palang Merah Internasional
Sejarah PMI & PMR
Mars PMI & PMR ( Bhakti Remaja )
Dasar Gerakan PMR

Nah, setelah materi2 itu dikuasai, baru deh siap buat nerima materi Kepalangmerahan yang meliputi 10 Bab materi, yakni:
Bab 1 Pertolongan Pertama ( PP )
Bab 2 Anatomi & Fisiologi
Bab 3 Penilaian Penderita ( Assesment )
Bab 4 Cedera Jaringan Lunak
Bab 5 Cedera Sistem Otot & Rangka
Bab 6 Luka Bakar
Bab 7 Evakuasi Transportasi ( ET )
Bab 8 Kedaruratan Medis
Bab 9 Keracunan
Bab 10 Penanggulangan Bencana Alam ( PBA )